Menikah adalah suatu ibadah, bahkan dapat di katagorikan ibadah terindah. berpasangan atau single tetap harus menjalin hubungan antar sesama, menikah atau berkeluarga termasuk pembelajaran seumur hidup.
ada beberapa pria atau wanita disekitar kita yang enggan atau takut menikah, ada pula yang ingin sekali menikah namun tidak mudah menemukan teman hidup.
Kecenderungan untuk sulit mendapat pasangan hidup banyak latar belakang permasalahan, sehingga banyak yang tidak mau tergesa-gesa dalam menempuh hidup berpasangan.
Ada tujuh hal yang membuat anda kesulitan untuk mendapatkan pasangan hidup.
Pertama, terlalu idealis. Biasanya ini karena pengaruh orangtua yang sudah menaruh harapan tinggi pada putra atau putrinya. Misalnya orangtua mengharuskan anaknya menikah dengan pasangan yang satu suku. Ada juga yang meminta putranya menikah dengan putri dari keluarga yang status sosialnya sama, dan lain-lain. Namun sayangnya, si anak tidak memiliki ketrampilan bergaul yang cukup. Pergaulannya terbatas, sehingga dia kesulitan mendapatkan pacar seperti yang diharapkan orangtua.
Kedua, karena konsep dan harga diri yang miskin (inferior). Mereka yang minder biasanya suka menghakimi dan menyalahkan diri. Misalnya, "Aku ini bodoh, mana ada yang mau sama aku."Atau menyalahkan diri dan berkata, "Ah, mana mungkin dia mau sama aku yang miskin ini." Orang lain berkata dalam hatinya, "Ah, aku tidak pantas jadi pacarnya." Perasaan minder ini membuat sahabat tidak merasa nyaman bergaul dengan Anda.
Ketiga, jiwa yang memberontak. Sikap demikian terbentuk karena orang tersebut melihat perkawinan orangtuanya "sakit". Sesehari dia menyaksikan Ibunya menderita karena ulah sang ayah, yang kasar dan egois. Akibatnya, dia merasa menikah itu bukan hal yang menyenangkan. Muncullah pergumulan batin "Untuk apa aku menikah jika hanya membuat diri menderita?". Pada kasus lain, si gadis mungkin pernah trauma dan sakit hati pada pacarnya. Dia sudah bertunangan dan nyaris menikah, tapi akhirnya si pria memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Apalagi mereka sudah lama berpacaran dan hubungan teralu intim. Dalam hatinya dia berkesimpulan, "Ah...Semua pria sama saja, pembohong dan tidak setia."
Keempat, karena punya kepribadian "anti-sosial". Biasanya pemuda-pemudi demikian mengalami kekerasan masa kecil dari ayah. Akhirnya dia tumbuh sebagai pria yang kasar, suka menghina orang (seperti ayahnya). Akibatnya, banyak teman putrinya segan dekat atau bersahabat. Jangankan bicara, kadang melihat wajahnya saja, teman dan lawan jenisnya sudah takut. Atau pada kasus wanita yang dianiaya secara fisik dan psikis oleh ibunya. Dibesarkan ibu yang dominan dan cerewet. Dipingit oleh ortu, dsb. Maka bisa terbentuk karakter "anti-sosial", dan membuat sulit bergaul.
Kelima, karena kurang modis, baik dalam hal berpakaian maupun yang lain. Kadang-kadang penggunaan parfum dibutuhkan, terutama jika Anda punya masalah dengan bau badan. Soal baju tentu relatif dan tidak harus mahal. Tetapi nyaman saat dilihat dan tidak kuno begitu, namun tetap sopan.
Keenam, ada juga yang sulit mendapat pacar dan teman hidup karena terlalu pasrah alias pasif. Hanya berharap, menunggu Tuhan akan mengirimkan. Berdoa tapi tidak ada usaha. Tentu saja ini tidak mungkin. Untuk mendapat teman hidup Anda harus berusaha, bergaul seluas mungkin serta kreatif memilih sahabat.
Ketujuh, ragu-ragu terhadap kemampuan khawatir tak bisa membangun rumah tangga yang harmonis, ideal karena merasa belum mempunyai materi yang cukup atau belum dapat mencintai, cenderung perfecsionis.
cinta sebelum pernikahan bukanlah syarat mutlak keberhasilan dalam rumah tangga. Bahkan tidak ada jaminan 2 orang yang saling mencintai sebelum pernikahan, rumah tangganya tidak akan gagal. Cinta sebelum ada ikatan pernikahan sebenarnya lebih banyak bersifat emosional, sehingga banyak pasangan yang awalnya begitu membara cintanya kemudian menjadi padam setelah menikah.
Seperti disebutkan diatas menikah adalah pembelajaran belum ada yang mampu atau pandai dalam hidup berpasangan. Semua kembali kepada diri sendiri dapatkah menghargai apapun atau siapapun.
ada beberapa pria atau wanita disekitar kita yang enggan atau takut menikah, ada pula yang ingin sekali menikah namun tidak mudah menemukan teman hidup.
Kecenderungan untuk sulit mendapat pasangan hidup banyak latar belakang permasalahan, sehingga banyak yang tidak mau tergesa-gesa dalam menempuh hidup berpasangan.
Ada tujuh hal yang membuat anda kesulitan untuk mendapatkan pasangan hidup.
Pertama, terlalu idealis. Biasanya ini karena pengaruh orangtua yang sudah menaruh harapan tinggi pada putra atau putrinya. Misalnya orangtua mengharuskan anaknya menikah dengan pasangan yang satu suku. Ada juga yang meminta putranya menikah dengan putri dari keluarga yang status sosialnya sama, dan lain-lain. Namun sayangnya, si anak tidak memiliki ketrampilan bergaul yang cukup. Pergaulannya terbatas, sehingga dia kesulitan mendapatkan pacar seperti yang diharapkan orangtua.
Kedua, karena konsep dan harga diri yang miskin (inferior). Mereka yang minder biasanya suka menghakimi dan menyalahkan diri. Misalnya, "Aku ini bodoh, mana ada yang mau sama aku."Atau menyalahkan diri dan berkata, "Ah, mana mungkin dia mau sama aku yang miskin ini." Orang lain berkata dalam hatinya, "Ah, aku tidak pantas jadi pacarnya." Perasaan minder ini membuat sahabat tidak merasa nyaman bergaul dengan Anda.
Ketiga, jiwa yang memberontak. Sikap demikian terbentuk karena orang tersebut melihat perkawinan orangtuanya "sakit". Sesehari dia menyaksikan Ibunya menderita karena ulah sang ayah, yang kasar dan egois. Akibatnya, dia merasa menikah itu bukan hal yang menyenangkan. Muncullah pergumulan batin "Untuk apa aku menikah jika hanya membuat diri menderita?". Pada kasus lain, si gadis mungkin pernah trauma dan sakit hati pada pacarnya. Dia sudah bertunangan dan nyaris menikah, tapi akhirnya si pria memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Apalagi mereka sudah lama berpacaran dan hubungan teralu intim. Dalam hatinya dia berkesimpulan, "Ah...Semua pria sama saja, pembohong dan tidak setia."
Keempat, karena punya kepribadian "anti-sosial". Biasanya pemuda-pemudi demikian mengalami kekerasan masa kecil dari ayah. Akhirnya dia tumbuh sebagai pria yang kasar, suka menghina orang (seperti ayahnya). Akibatnya, banyak teman putrinya segan dekat atau bersahabat. Jangankan bicara, kadang melihat wajahnya saja, teman dan lawan jenisnya sudah takut. Atau pada kasus wanita yang dianiaya secara fisik dan psikis oleh ibunya. Dibesarkan ibu yang dominan dan cerewet. Dipingit oleh ortu, dsb. Maka bisa terbentuk karakter "anti-sosial", dan membuat sulit bergaul.
Kelima, karena kurang modis, baik dalam hal berpakaian maupun yang lain. Kadang-kadang penggunaan parfum dibutuhkan, terutama jika Anda punya masalah dengan bau badan. Soal baju tentu relatif dan tidak harus mahal. Tetapi nyaman saat dilihat dan tidak kuno begitu, namun tetap sopan.
Keenam, ada juga yang sulit mendapat pacar dan teman hidup karena terlalu pasrah alias pasif. Hanya berharap, menunggu Tuhan akan mengirimkan. Berdoa tapi tidak ada usaha. Tentu saja ini tidak mungkin. Untuk mendapat teman hidup Anda harus berusaha, bergaul seluas mungkin serta kreatif memilih sahabat.
Ketujuh, ragu-ragu terhadap kemampuan khawatir tak bisa membangun rumah tangga yang harmonis, ideal karena merasa belum mempunyai materi yang cukup atau belum dapat mencintai, cenderung perfecsionis.
cinta sebelum pernikahan bukanlah syarat mutlak keberhasilan dalam rumah tangga. Bahkan tidak ada jaminan 2 orang yang saling mencintai sebelum pernikahan, rumah tangganya tidak akan gagal. Cinta sebelum ada ikatan pernikahan sebenarnya lebih banyak bersifat emosional, sehingga banyak pasangan yang awalnya begitu membara cintanya kemudian menjadi padam setelah menikah.
Seperti disebutkan diatas menikah adalah pembelajaran belum ada yang mampu atau pandai dalam hidup berpasangan. Semua kembali kepada diri sendiri dapatkah menghargai apapun atau siapapun.




0 komentar:
Posting Komentar