TIPS SEHAT
Anda membaca label ketika membeli
makanan? Ternyata hanya sebagian kecil dari warga negara Indonesia yang
menganggap label di kemasan itu penting. Pengamatan Prof Dr Ir Made
Astawan MS, staf pengajar dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi
Pangan, Institut Pertanian Bogor, menunjukkan budaya membaca label masih
rendah. “Mereka yang belanja tidak pernah membandingkan dua produk
sejenis,” kata Made Astawan. Padahal dengan membaca label, tergambar
jelas identitas sebuah produk pangan: merek, kode produksi, volume atau
bobot bersih, kandungan gizi, mutu, dan masa kedaluwarsa. Di Indonesia
pelabelan dituangkan dalam Undang-undang No. 7/1996 tentang pangan.
Pelabelan dikenakan untuk semua produk pangan produk yang diperdagangkan
kepada khalayak. Bentuk label beragam, mulai dari gambar, tulisan, atau
kombinasi keduanya. Label bisa ditempel atau dicetak dalam kotak
kemasan atau berupa brosur yang dimasukkan dalam kemasan.
Dengan
membaca label, konsumen dapat membandingkan 2 produk sejenis dari segi
ekonomis (harga) dan kesesuaian produk dengan kesehatan. Bagi penderita
hipertensi, tentu tidak akan memilih makanan yang bahan penyusunnya
mengandung kadar natrium berlebih. Demikian pengidap diabetes mellitus
akan menghindari makanan berkadar gula tinggi. Namun, pada dasarnya
secara umum ada 3 bahan utama yang terkait dengan kesehatan konsumen
yakni, pemicu alergi, pemanis buatan, dan asam lemak.
Alergen
Meski
kelihatan sepele, zat-zat allergen atau pemicu alergi menimbulkan
gangguan kesehatan luar biasa hingga berujung kematian. Di Amerika
Serikat 11-juta orang dewasa dan anak-anak terpapar zat alergen. Bahkan
berdasarkan Journal of Allergy and Clinical Immunology, setiap tahun
29.000 orang Amerika Serikat masuk rumahsakit dan 150 orang meninggal
gara-gara mengkonsumsi makanan yang mengandung allergen. Sedangkan di
Inggris tercatat 1,5-juta orang, atau 1—2% orang dewasa dan 5—7% dari
jumlah penduduk mengalami alergi. Zat pemicu alergi berbeda-beda untuk
masing-masing orang. Tercatat sekitar 170 jenis makanan yang menimbulkan
alergi. Dari jumlah itu 8 jenis di antaranya sebagai penyebab terhadap
90% kasus alergi yaitu susu, ikan, udang, kerang-kerangan,
kacang-kacangan, kedelai, dan gandum. Risiko yang ditimbulkan sangat
tergantung dari volume bahan alergen yang dikonsumsi dan daya tahan
tubuh. Namun, pada umumnya di Indonesia tidak sampai menimbulkan
kematian.
Pemanis buatan
Pemanis bahan
makanan yang hampir selalu ada di setiap makanan. Celakanya, pemanis
sangat ditakuti oleh para penderita diabetes mellitus. Oleh karena
itulah banyak makanan menggunakan pemanis buatan berkagar glukosa sangat
rendah. Indonesia adalah negara yang paling banyak menggunakan jenis
pemanis buatan dibanding negara-negara lain di dunia. Contoh di
negara-negara Asean hanya 2—5 jenis, sedangkan Indonesia mencapai 13
jenis. Ketigabelas jenis pemanis sintetis itu antara lain aspartam,
sakarin, siklamat, taumatin, asesulfam, neotam, glisirizin,
neophesperidin, monelin, steviose, dan sucralose
Menurut Made
Astawan, pemakaian pemanis buatan aman selama dibawah ambang batas,
termasuk aspartam yang selama ini menjadi isu. “Dosis aspartam 40 mg/kg
bobot tubuh. Artinya dengan konsumsi sebanyak itu tidak menimbulkan
risiko apa pun meski dikonsumsi seumur hidup,” kata doktor Nutrisi dan
Kimia Pangan dari Tokyo University of Agriculture, Jepang, itu. Pemanis
yang ditemukan oleh James Schalatte pada 1965 itu merupakan campuran
dua asam amino alami yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Aspartam boleh
dikonsumsi semua orang kecuali bagi mereka yang memiliki penyakit
genetik phenylketonuria. Asam Lemak Jenuh dan Asam Lemak Tak Jenuh Asam
Lemak Jenuh Sumber Butirat Lemak susu Palmitat Lemak hewani dan nabati
Stearat Lemak hewan dan nabati Asam Lemak Tak Jenuh Sumber Palmitoleat
Lemak hewani dan nabati Oleat Lemak hewani dan nabati Linoleat Minyak
nabatiLinolenat Minyak biji Ke depan pemanis sintetis
akan semakin berkembang lantaran dilihat dari beberapa aspek cukup
menguntungkan. Dari kemanisan, pemanis buatan mempunyai tingkat
kemanisan 50—3.000 kali daripada gula dan tidak mempengaruhi kadar gula
darah. Ia juga tidak berwarna, tidak berbau, dan rasa sama dengan gula,
mudah larut dalam air, dan gampang dipadukan dengan berbagai senyawa
kimia. Sayangnya, rasa manis pada pemanis sintetis tidak bertahan lama
seperti gula.
Dosis Maksimal Pemanis Sintetis (mg/kg bobot tubuh)
Aspartam 40
Sakarin 5
Asesulfam 15
Sucralose 5
Siklamat 50
Namun,
sebetulnya pemanis alami pun ada yang aman bagi para penderita
diabetes, yaitu stevia. Daun dari tumbuhan perdu asal Paraguay itu
mampu menghasilkan rasa manis 70—400 kali daripada manisnya gula tebu.
Rasa manis stevia terjadi karena memiliki molekul kompleks yang disebut
steviosida. Senyawa itu merupakan glikosida yang tersusun dari glukosa,
soforose, dan steviol. Kandungan steviosida tergantung dari varietas.
Sebagai contoh stevia klon BPP 72 mengandung steviosida 10— 12%. Stevia
juga mengandung protein, karbohidrat, serat, mineral, vitamin A,
vitamin C, dan 53 komponen lain.
Asam lemak
Asam
lemak ditakuti oleh penderita obesitas, diabetes, hipertensi, dan
kolesterol tinggi. Sebetulnya lemak dibutuhkan oleh tubuh sebagai
penghasil energi, sehingga harus ada dalam pola makan. Made Astawan
menuturkan dalam pola makan 2.000 kalori, protein yang disarankan 65 g,
lemak 50 g, dan karbohidrat 320 g. Lemak menjadi sumber energi
terbesar, karena dari setiap 1 g asam lemak menghasilkan 9 kkal,
sedangkan protein dan karbohidrat masing-masing hanya 4 kkal. Lemak
juga pelarut vitamin A, D, E, dan K, serta pemberi citarasa enak dan
gurih. Lemak yang berbahaya jika dikonsumsi berlebihan adalah lemak
jenuh, sedangkan yang tidak jenuh sangat aman. Sebab, ikatan ganda dalam
asam lemak tak jenuh mudah terlepas bila terkena oksigen atau terjadi
oksidasi. Asam lemak tak jenuh ini justru membantu menurunkan kadar
kolesterol LDL darah (kolesterol jahat). “Ibu-ibu tidak apa-apa
menggunakan santan selama tidak kontak langsung dengan oksigen yang
menyebabkan perubahan ikatan ganda,” kata Prof Dr Clara M. Kusharto,
MSc, dosen di Departemen Gizi Masyarakat, Institut Pertanian Bogor.
Bahkan asam lemak tak jenuh berantai tunggal atau monounsaturated fat
bermanfaat menurunkan risiko kanker payudara hingga 45%. Itulah hasil
penelitian Alicja Wolk, PhD dari Karolinska Institute di Stockholm,
Swedia, pada 1987. Ia melibatkan 61.471 perempuan berusia 40—76 tahun.
Sumber lemak tak jenuh adalah kacang-kacangan, kakao, dan alpukat.
Jadi, jikadi label tercantum berisi asam lemak tak jenuh, angkanya boleh
diabaikan.Sementara asam lemak jenuh harus dihitung berdasarkan
kebutuhan tubuhmasing-masing orang.



0 komentar:
Posting Komentar